Tampilkan postingan dengan label parasit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label parasit. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Juni 2011

Trichomonas vaginalis causes of vaginal discharge

One cause of vaginal discharge that is Trichomonas vaginalis is a protozoan pathogen that is commonly found in the human genitourinary tract. The parasite Trichomonas vaginalis is a vaginal discharge that is transmitted through sexual intercourse, so including one in sexually transmitted diseases (STDs). Vaginal discharge can also be transmitted through toilet toiletries and lips that have been contaminated. Whitish fluid is very thick, frothy, yellow or greenish with a rancid odor. Vaginal discharge caused by this parasite does not cause itching, but painful if the vagina is pressed.

Prevalence of Trichomonas vaginalis of 5-10% in the general female population, 50-60% in female prison population and commercial sex workers (CSWs) in women who have a complaint at the vagina, the prevalence of Trichomonas vaginalis between 18-50%, and at 30-50 % of women with gonorrhea were also found in Trichomonas vaginalis infection. Prevalence of Trichomonas vaginalis infection in men attending sexually transmitted disease clinic as much as 6%. Trichomonas vaginalis infection in men is always associated with non-gonorrhea urethritis, with prevalence between 1-68%.

Treatment of vaginal trichomoniasis is not as easy as a direct relationship between the susceptibility of organisms to metronidazole at a dose of medication, but may depend on a complex interaction of several factors which include: drug susceptibility of Trichomonas, the local drug concentration, redox potential intravagina (which may regulate the amount of drugs taken by the parasite) and the accompanying vaginal microflora (which may reduce the number of local drug). But metronidazole is still the drug of choice for trichomoniasis in women and men. There is no effective alternative treatment in addition to metronidazole.

Sabtu, 04 Juni 2011

HEPATITIS



A. DEFINISI
                Hepatitis merupakan semua jenis peradangan hati (liver)karena berbagai sebab, di antaranya karena infeksi salah satu virus hepatitis (A, B, C, D, E, F, G, infeksi Mononukleosis infeksiosa, dan infeksi Sitomegalovirus), atau hepatitis nonvirus (akibat konsumsi _clera_dan obat-obatan). Di indonesia penderita penyakit hepatitis pada umumnya cenderung lebih banyak mengalami golongan hepatitis B dan C.

1.       HEPATITIS A

Merupakan golongan penyakit hepatitis yang ringan dan jarang sekali menyebabkan kematian, virus hepatitis A (VHA=Virus Hepatitis A) penyebarannya melalui kotoran /tinja yang penularannya melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi, atau buruknya kondisi lingkungan, contohnya , ikan atau kerang yang berasal dari kawasan air yang dicemari oleh kotoran manusia penderita. Penyakit Hepatiitis A memilki masa inkubasi 2 sampai 6 minggu sejak penularan terjadi, barulah kemudian penderita menunjukkan beberapa gejala dan tanda terserang penyakit Hepatitis A.
                GEJALA HEPATITIS A

Gejala hepatitis A seringkali tidak ada (tidak nampak)bagi anak kecil. Pada orang dewasa seminggu pertama terjadi demam tiba-tiba, hilang nafsu makan, mual, muntah, penyakit kuning (kulit dan mata menjadi kuning), air kencing berwarna tua, tinja pucat. Hepatitis A dapat dibagi menjadi 3 stadium, yaitu
·         Pendahuluan (prodromal) dengan gejala letih, lesu, demam, kehilangan selera makan dan mual
·         Stadium dengan gejala kuning (stadium ikterik)
·         Stadium kesembuhan (konvalesensi)
PENCEGAHAN
       Menjaga kebersihan perorangan seperti mencuci tangan, orang yang dekat dengan penderita mungkin memerlukan terapi _clera_lobulin. Imunisasi hepatitis A bisa dilakukan dalam bentuk sendiri (Havrix) atau bentuk kombinasi dengan vaksin hepatitis B  (Twinrix). Imunisasi hepatitis A dilakukan 2 kali, yaitu vaksinasi dasar dan booster yang dilakukan 6-12 bulan kemudian, sementara hepatitis B dilakukan 3 kali, yaitu dasar, satu bulan, dan 6 bulan kemudian. Imunisasi hepatitis A dianjurkan bagi orang yang potensial terinfeksi seperti penghuni asrama dan mereka yang sering makan di luar di rumah.

2.       PENYAKIT HEPATITIS B

Hepatitis B merupakan suatu penyakit hati yang disebabkan oleh Virus Hepatitis B (VHB), suatu anggota famili Hepadnavirus yang dapat menyebabkan peradangan hati akut atau menahun yang pada sebagian kecil kasus dapat berlanjut menjadi sirosi hati atau kanker hati. Penyebabnya tak semata-mata virus, bisa juga oleh sebab lain. Keracunan obat, dan paparan berbagai macam zat kimia seperti karbon tetraklorida, hlorpromazine, chloroform, arsen, fosfor, dan zat-zat lain yang digunakan sebagai obat dalam industri modern, bisa menyebabkan hepatitis.
                 Proses penularan hepatitis B yaitu melalui pertukaran cairan tubuh atau kontak dengan darah dari orang yang terinfeksi hepatitis B, penularan dari ibu ke bayi saat melahirkan, hubungan sexual, transfusi darah, jarum suntik, maupun penggunaan alat kebersihan diri (handuk, sikat gigi) secara bersama-sama. Hepatitis B dapat menyerang siapa saja, akan tetapi umumnya bagi mereka yang berusia produktif akan lebih beresiko terkena penyakit ini.

                GEJALA HEPATITIS B
Umumnya gejala penyakit hepatitis B adalah ringan. Gejala tersebut dapat berupa selera makan hilang rasa tidak enak di perut, mual, sampai muntah, demam ringan, kadang-kadang disertai nyeri sendi dan bengkak pada perut kanan atas. Setelah satu minggu akan muncul gejala utama seperti bagian tubuh pada mata tampak kuning, kulit seluruh tubuh tampak kuning dan air seni berwarna seperti teh. Namun bagi penderita hepatitis B kronik akan cenderung tidak tampak tanda-tanda tersebut, sehingga penularan kepada orang lain menjadi lebih beresiko.

                PENANGANAN DAN PENGOBATAN HEPATITIS B
Penderita yang diduga hepatitis B untuk kepastian diagnosa dilakukan pemeriksaan darah. Setelah diagnosa ditegakkan sebagai hepatitis B, maka ada cara pengobatan untuk hepatitis B, yaitu pengobatan telan (oral) dan secara injeksi.

Salah satu Pengobatan oral yang terkenal yaitu Pemberian obat Lamivudine, yang dikenal dengan nama 3TC. Digunakan bagi orang dewasa maupun anak-anak.pemakaian obat ini cenderung meningkatkan enzyme hati (ALT) untuk itu, penderita akn mendapat monitor  berkesinambungan dari dokter.

Pengobatan dengan injeksi yaitu
Pemberian suntikan Microsphere yang mengandung partikel radioaktif pemancar sinar β akan menghancurkan sel kanker hati tanpa merusak jaringan sehat si sekitarnya. Injeksi Alfa Interferon diberikan secar subcutan dengan skala pemberian 3 kali dalam seminggu selam 12-16 minggu atau lebih. Efek samping pemberian obat ini adalah depresi, lainnya terasa sakit pada otot-otot, cepat letih dan sedikit menimbulkan demam yang hal ini dapat dihilangkan dengan pemberian paracetamol
                 PENCEGAHAN
Langkah-langkah pencegahan agar terhindar dari penyakit hepatitis B  adalah oemberian vaksin terutama pada orang-orang yang berisiko tinggi terkena virus ini, seperti mereka yang berperilaku sex kurang baik (ganti-ganti pasangan/homosexual), pekerja kesehatan (perawat dan dokter) dan mereka yang berada di daerah rentan banyak kasus hepatitis B.

3.       PENYAKIT HEPATITIS C 

Penyakit hepatitis C adalah penyakit hati yang disebabkan oleh virus hepatitis C (VHC). Proses penularannya melalui kontak darah (transfusi, jarum suntik yangg terkontaminas, serangga yang menggigiti penderita lalu menggigit orang lain di sekitarnya). Penderita hepatitis C kadang tidak menampakkan gejala yang jelas, akan tetappi pada penderita hepatitis C kronik menyebabkan kerusakan/kematian sel-sel hati dan terdeteksi sebagai kanker (cancer) hati. Sejumlah 85 % dari kasus, infeksi hepatitis C menjadi kronis dan secara perlahan merusak hati bertahun-tahun.
                GEJALA HEPATITIS C
Beberapa gejala yang samar, yaitu lelah, hilang selera makan, sakit perut, urin menjadi gelap dan kulit atau mata menjadi kuning yang disebut ‘jaundice’ (jarang terjadi). Pada beberapa kasus ditemukan peningkatan jumlah enzyme hati pada pemeriksaan urine, namun demikian pada penderita heepatitis C justru terkadang enzyme hati fluktuasi bahkan normal.
                PENANGANAN DNA PENGOBATAN HEPATITIS C
Saat ini pengobatan Hepatitis C dilakukan dengan pemberian obat seperti Interferon alfa, Pegylated interferon alfa dan Ribavirin. Adapun tujuan pengobtan dari hepatitis C adalah menghilangkan virus dari tubuh anda sedini mungkin untuk mencegah perkembangan yang memburuk dan stadium akhir penyakit hati. Pengobatan pada penderita hepatitis C memerlukan waktu yang cukup lam bahkan pada penderita tertentu hal ini tidak dapat menolong, untuk itu perlu penanganan pada stadium awalnya.
4.       HEPATITIS D
Hepatitis D Virus (HDV) atau virus delta adalh virus yang unik, yang tidak lengkap dan untuk replikasi memerlukan keberadaan virus hepatitis B. Penularan melalui hubungan seexual, jarum suntik dan transfusi darah . gejala penyakit hepatitis D sangat bervariasi, dapat muncul sebagai gejala yang ringan (ko-infeksi) atau amat progresif.
5.       HEPATITIS E
Gejala mirip hepatitis A, demam pegel linu, lelah, hilang nafsu makan dan sakit perut. Penyakit yang akan sembuh sendiri (self-limited), kecuali bila terjadi pada kehamilan, khususnya trimester 3, dapat mematikan. Penularan melalui air yang terkontaminasi feses
6.       HEPATITIS F
Baru ada sedikit kasus yang terlaporkan. Saat ini para pakar belum ada sepakat hepatitis F merupakan penyakit hepatitis yang terpisah
7.       HEPATITIS G
Gejala seperti hepatitis C , seringkali infeksi bersamaan dengan hepatitis B dan atau C. Tidak menyebabkan hepatitis fulminan ataupun hepatitis kronik. Penularan melalui transfusi darah jarum suntik.
 
Sumber : Drs. H. Akhsin Zulkoni M.Si.2010. parasitologi. Yogyakarta:numed

Rabu, 01 Juni 2011

TRICHOMONAS VAGINALIS ... PENYEBAB KEPUTIHAN




          Salah satu penyebab keputihan yaitu Trichomonas vaginalis yang merupakan protozoa patogen yang umumnya ditemukan pada saluran genitourinaria manusia. Parasit Trichomonas vaginalis adalah keputihan yang ditularkan lewat hubungan seks, sehingga termasuk salah satu dalam penyakit menular seksual (PMS). Keputihan ini juga dapat menular melalui perlengkapan mandi dan bibir kloset yang telah terkontaminasi. Cairan keputihan sangat kental, berbuih, berwarna kuning atau kehijauan dengan bau anyir. Keputihan yang diakibatkan oleh parasit ini tidak menyebabkan gatal, tapi nyeri bila liang vagina ditekan.
           Prevalensi Trichomonas vaginalis sebesar 5-10% pada populasi umum wanita, 50-60% pada wanita penghuni penjara dan pekerja seks komersial (PSK) Pada wanita yang mempunyai keluhan pada vagina, prevalensi Trichomonas vaginalis antara 18-50%; dan pada 30-50% wanita dengan gonore juga ditemukan infeksi Trichomonas vaginalis. Prevalensi infeksi Trichomonas vaginalis pada pria yang mengunjungi klinik penyakit menular seksual sebanyak 6%. Infeksi Trichomonas vaginalis pada pria selalu dihubungkan dengan uretritis non gonore, dengan prevalensi antara 1-68%.
           Pengobatan trikomoniasis vagina tidaklah semudah hubungan langsung antara kerentanan organisme terhadap metronidazol dengan dosis obat, tetapi mungkin tergantung pada interaksi kompleks beberapa faktor yang meliputi: kerentanan obat terhadap trichomonas, kadar obat setempat, potensial redoks intravagina (yang mungkin mengatur jumlah obat yang diambil oleh parasit) dan mikroflora vagina yang menyertainya (yang mungkin mengurangi jumlah obat setempat). Metronidazol masih tetapi sebagai obat pilihan untuk trikomoniasis pada wanita dan pria. Tidak ada pengobatan alternatif yang efektif selain metronidazol.