Sabtu, 20 Oktober 2012

ANALISIS BAHAN PENGAWET METODE KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS


Pada dasarnya bahan tambahan dapat dibagi menjadi dua bagian besar, yaitu :
a.     Aditif sengaja, yaitu aditif yang diberikan dengan sengaja dengan maksud tertentu, misalnya untuk meningkatkan konsistensi, nilai gizi, cita rasa, mengendalikan keasaman atau kebasaan, memantapkan bentuk dan rupa, dan lain sebagainya.
b.     Aditif tidak sengaja, yaitu aditif yang terdapat dalam makanan dalam jumlah sangat kecil sebagai akibat dari proses pengolahan.
Berdasarkan fungsinya bahan tambahan makanan dapat digolongkan antara lain antioksidan, pengatur keasaman, pemanis buatan, pemutih dan pematang, pengawet, penyedap rasa dan aroma, penguat rasa, pewarna dan lain-lain (Winarno, 1984).


            Zat pengawet ialah bahan kimia yang berfungsi untuk membantu, mempertahankan bahan makanan dari serangan mikroba pembusuk, baik bakteri, ragi maupun jamur dengan cara menghambat, mencegah, menghentikan proses pembusukan, fermentasi, pengasaman atau kerusakan komponen lain dari bahan makanan. Aktifitas-aktifitas zat  pengawet tidak sama, misalnya ada yang efektif terhadap bakteri, ragi atau kapang. Zat pengawet terdiri dari senyawa organik dan senyawa anorganik (Winarno, 1983).
Zat pengawet organik lebih banyak dipakai daripada zat pengawet anorganik karena bahan ini mudah didapat. Bahan organik ini digunakan dalam bentuk asam maupun dalam bentuk garamnya. Bahan pengawet yang sering digunakan ialah asam asetat, asam benzoat, asam propionat, asam sorbat dan senyawa epoksida. Sedangkan zat pengawet anorganik yang sering digunakan adalah sulfit, nitrit dan nitrat (Buckle, 1987). Salah satu bahan pengawet yang sering digunakan dalam makanan adalah asam benzoat (C6H5COOH).
asam benzoat

            Syarat-syarat bahan pengawet diantaranya adalah harus bekerja menghambat dan mematikan mikroorganisme, tidak boleh merangsang rasa dan bau, stabil secara fisika dan kimia, dapat bekerja lama, tidak boleh mengurangi khasiat makanan, mudah didapat, bersifat efektif dalam jumlah kecil dan tidak boleh terurai dalam tubuh menjadi zat-zat yang lebih toksis daripada bahan pengawet murni.
            Setiap negara mempunyai peraturan masing-masing mengenai pemakaian zat pengawet pada makanan, minuman dan obat-obatan yang tujuannya melindungi produk dari hal-hal negatif yang dapat timbul dari pemakaian zat pengawet. Saat ini aturan zat pengawet di Indonesia diatur dalam peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 72/Menkes/Per/IX/88 Tahun 1988 tentang bahan tambahan makanan (Depkes RI, 1995).

Kromatografi lapis tipis digunakan secara luas untuk analisa kualitatif atau pemisahan campuran dalam jumlah yang kecil. Analisa ini bekerja berdasarkan pada distribusi fasa cair-padat. Sebagai fasa padat berupa lapisan tipis bubur alumina atau silica gel yang menempel pada permukaan selembar lempeng kaca, sedangkan sebagai fasa cairnya adalah eluen yang digunakan untuk membawa zat yang diperiksa bergerak melalui fasa padat.






ANALISIS BAHAN PENGAWET MENGGUNAKAN KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS

 Kromatografi Lapis Tipis

    
Kromatografi adalah suatu nama yang diberikan untuk teknik pemisahan tertentu. Pada dasarnya semua cara kromatografi menggunakan dua fase yaitu suatu fase tetap (stationary) dan yang lain fase bergerak (mobile); pemisahanpemisahan tergantung pada gerakan relatif dari dua fase ini (Sastrohamidjojo, 1991). Diantara berbagai jenis teknik kromatografi, kromatogafi lapis tipis (KLT) adalah yang paling cocok untuk analisis obat di laboratorium farmasi (Stahl, 1985). Kromatografi Lapis Tipis dapat digunakan untuk memisahkan berbagai senyawa seperti ion-ion anorganik, kompleks senyawa-senyawa organik dengan anorganik, dan senyawa-senyawa organik baik yang terdapat di alam dansenyawa-senyawa organik sintetik. KLT merupakan kromatografi adsorbsi dan adsorben bertindak sebagai fase stasioner. Empat macam adsorbsi dan adsorben bertindak sebagai fase stasioner. Empat macam adsorben yang umum dipakai ialah silika gel (asam silikat), alumina (aluminium oxyde), kieselguhr (diatomeus earth) dan selulosa. Dari keempat jenis adsorben tersebut yang paling banyak dipakai ialah silika gel karena hampir semua senyawa zat dapat dipisahkan oleh jenis adsorben ini (Tabel 6) dan masing-masing terdiri dari beberapa jenis yang mempunyai nama perdagangan bermacam-macam (Adnan, 1997). Silika gel yang digunakan kebanyakan diberi pengikat (binder) yang dimaksud untuk memberikan kekuatan pada lapisan dan menambah adhesi pada gelas penyokong. Sifat-sifat umum dari penyerap-penyerap untuk kromatografi lapisan tipis adalah mirip dengan sifat-sifat penyerap untuk kromatografi kolom. Dua sifat yang penting dari penyerap adalah besar partikel dan homogenitasnya,
 arena adhesi terhadap penyokong sangat bergantung pada mereka (Sastrohamidjojo, 1991).

            Fase gerak ialah medium angkut dan terdiri atas satu atau beberapa
pelarut. Ia bergerak di dalam fase diam, yaitu suatu lapisan berpori, karena ada gaya kapiler (Stahl, 1985). Jika fase gerak dan fase diam telah dipilih dengan tepat, bercak cuplikan awal dipisahkan menjadi sederet bercak, masing-masing bercak diharapkan merupakan komponen tunggal dari campuran (Gritter, dkk, 1991). Memang agak sukar untuk menentukan sistem pelarut yang cocok untuk pengembangan. Pemilihan sistem pelarut yang dipakai didasarkan atas prinsip like dissolves like, tetapi akan lebih cepat dengan mengambil pengalaman para peneliti, yaitu dengan dasar pustaka yang sudah ada (Adnan, 1997). Perbedaan migrasi merupakan dasar pemisahan kromatografi, tanpa perbedaan dalam kecepatan migrasi dari 2 senyawa, tidak mungkin terjadi pemisahan (Sudjadi, 1986).
            Terdapat berbagai kemungkinan untuk deteksi senyawa dan warna pada kromatogram. Deteksi paling sederhana adalah jika senyawa menunjukkan penyerapan di daerah UV gelombang pendek (radiasi utama pada kira-kira 254 nm) atau jika senyawa itu dapat dieksitasi ke fluoresensi radiasi UV gelombang pendek dan atau gelombang panjang (365 nm) (Stahl, 1985).
            Identifikasi dari senyawa-senyawa yang terpisah pada lapisan tipis lebih baik dikerjakan dengan pereaksi lokasi kimia dan reaksi-reaksi warna. Tetapi lazimnya untuk identifikasi menggunakan harga Rf meskipun harga-harga Rf dalam lapisan tipis kurang tepat bila dibandingkan pada kromatografi kertas. Seperti halnya pada kromatografi kertas harga Rf didefinisikan sebagai
berikut:



Harga-harga Rf untuk senyawa-senyawa murni dapat dibandingkan
dengan harga-harga standar (Sastrohamidjojo, 1991).




DAFTAR PUSTAKA
1.      Elidahanum Husni et al.2007.Analisa Zat Pengawet dan Protein dalam Makanan Siap Saji Sosis. Jurnal Sains dan Teknologi Farmasi : Padang
2.      Siaka. 2009. Analisis Bahan Pengawet

1 komentar:

Blog27999 mengatakan...

Do you understand there's a 12 word sentence you can tell your crush... that will induce deep feelings of love and impulsive attractiveness to you deep within his heart?

Because deep inside these 12 words is a "secret signal" that fuels a man's instinct to love, admire and care for you with all his heart...

12 Words Will Fuel A Man's Love Impulse

This instinct is so hardwired into a man's mind that it will drive him to work harder than before to make your relationship the best part of both of your lives.

As a matter of fact, fueling this influential instinct is absolutely important to getting the best possible relationship with your man that the second you send your man one of these "Secret Signals"...

...You will soon find him open his soul and mind to you in a way he haven't expressed before and he'll see you as the only woman in the universe who has ever truly understood him.

Posting Komentar